Monday, February 22, 2016


Desa Semambung berhasil menerapkan PSN dengan 3M plus. Desa yang dulunya endemi, kini menjadi desa bebas DBD. 



Pagi itu langit terlihat mendung. Seorang perempuan muda menggunakan masker melangkah keluar dari sebuah rumah sederhana di Desa Semambung, Kecamatan Kanor. Langkah kakinya cepat menyusuri jalan paving di desa tersebut. 



Ia masuk dari satu rumah ke rumah warga lainnya. Di tangannya terlihat sebuah stiker warna merah dan hijau. Dengan ramah pemilik rumah mempersilahkan wanita itu masuk kedalam rumah.



Bergegas wanita itu menuju sejumlah ruangan. Ada sejumlah ruangan yang menjadi sasaran utamanya yakni kamar mandi dan tempat penampungan air. Di tempat itu, wanita berjilbab itu membuka tutup penampungan air, kemudian mengawasi sejenak air di dalamnya.



“Saya lagi memantau jentik,” kata Nasriah.



Nasriah adalah salah satu kader pemantau jentik (jumantik) Demam Berdarah Dengue (DBD) Desa Semambung. Ia memiliki tugas untuk memantau jentik di tempat-tempat penampungan rumah warga setiap dua minggu sekali.



“Selain memantau jentik, tugas saya adalah mengingatkan kepada pemilik rumah untuk melakukan 3M plus,” sergah dia.



3M yang dimaksud adalah 3M Plus adalah 1) Menguras/membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain 2) Menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya; dan 3) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

Selain itu, ditambahkan segala bentuk kegiatan pencegahan DBD lainnya, seperti 1) Menaburkan bubuk larvasida (lebih dikenal dengan abate) pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.



“Kalau ditemukan jentik, saya akan memasangi stiker warna merah. Ini sebagai tanda bahwa dirumah ini ada jentiknya dan perlu dilakukan pengawasan khusus. Sedangkan untuk rumah yang bebas jentik kita pasangi stiker warna hijau,” kata Nasriah, mengungkapkan.



“Tapi jika jika di rumah itu sudah terbebas jentik, maka stiker itu akan kita ganti dengan stiker warna hijau,” lanjut dia.



Bagi Nasriah, menjadi kader jumantik merupakan panggilan hati. Karena lima tahun lalu, desa berpenduduk kurang lebih 2.400 jiwa itu merupakan daerah endemik DBD. Banyak warga setempat yang terserang penyakit yang bisa menyebabkan kematian tersebut.



Dari latar belakang itulah, dia menginginkan kesadaran masyarakat meningkat untuk melakukan 3M plus. Meskipun awalnya sulit karena tugasnya itu sempat mendapat tentangan dari beberapa warga, namun dengan kukuh dan pantang menyerah Nasriah tetap rutin memantau jentik dan mengingatkan warga untuk rutin melakukan 3M.  



“Dulu sempat ada warga yang tidak mau didatangi rumahnya. Bahkan, meminta saya menguras sendiri tempat mandi dan penampungan air,” kenang Nasriah yang sudah menjadi kader jumantik sejak 2012 silam.



“Namun lama kelamaan warga mulai sadar, mereka melakukan 3M secara rutin,” lanjut dia sambil tersenyum.



Tugas memantau jentik ini tak dilakukan sendiri oleh Nasriah. Di Desa Semambung terdapat 10 kader jumantik. Mereka memantau jentik di 130 kepala keluarga (KK) di 14 RT dan 3 RW yang tersebar di dua dusun yakni Dusun Slandeng dan Mruwut. Dalam melaksanakan tugasnya, para kader jumantik ini dibantu oleh para istri Ketua RT.



“Ini merupakan program pemerintah kepala desa yang dulu. Saya tinggal meneruskan,” sambung Kepala Desa Semambung, Neny Rahmawati dikonfirmasi terpisah.



Hanya saja, kegiatan kader jumantik ini sempat vakum selama hampir setahun karena suasana politik di desa menjelang pemilihan kepala desa (Pilkades). Namun, setelah Neny dilantik sebagai kepala desa pada 16 April 2014, kader jumantik mulai diaktifkan kembali.



Bahkan untuk merangsang kinerja para kader jumantik ini, pihak pemerintah desa (Pemdes) telah menganggarkan honorarium bagi petugas dalam anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes). Setiap kader mendapatkan honor sejumlah Rp1.200.000. Selain itu, juga menganggarkan kebutuhan alat tulis kantor (ATK) bagi kader di antaranya untuk pembelian masker dan pembuatan stiker.



“Kader jumantik ini sangat membantu dalam membangkitkan budaya warga untuk melakukan pemberantasan DBD dengan cara PSN,” tegas Ibu satu anak itu.



Sebab, dengan adanya pemantauan rutin dari kader jumantik ini warga saling berlomba-lomba memberishkan rumahnya terutama tempat mandi dan penampungan air. Karena setiap kali kader menemukan jentik di rumah warga, maka akan dipasangi stiker warna merah dan mendapat pemantauan khusus untuk menguras tempat penampungan air sehari sekali sampai jentik-jentiknya hilang.



“Warga sekarang malu kalau di rumahnya dipasangi stiker warna merah. Karena itu sebelum kader datang, mereka sudah membersihkan semua tempat penampungan air,” ujar Neny, mengungkapkan.



Selain memberdayakan kader jumantik, untuk menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), desa yang pernah mewakili Bojonegoro di tingkat Provinsi Jawa Timur di lomba PSN itu selalu mensosialisasikan program tersebut melalui jamaah tahlil di masing-masing RT. Dengan cara ini, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan semakin tinggi.



“Kesadaran itu semakin tumbuh paska adanya sepuluh warga sini yang terserang DBD beberapa waktu lalu. Meskipun virus penyakit itu dibawa penderita dari tempatnya kuliah di Malang dan Surabaya, bukan dari sini,” kata Neny.



Tak hanya itu, Desa Semambung juga melakukan kerja bakti rutin setiap seminggu sekali. Kerja bakti dilakukan di selokan, makam, dan lingkungan yang terdapat genangan air hujan, sambil melakukan abatisasi.



Para kader jumantik tersebut di bawah arahan tim Sagasih Kecamatan Kanor. Disamping Semambung, Pemerintah Kecamatan Kanor sekarang ini terus mendorong kepada semua desa di wilayahnya untuk manggalakkan PSN. Sejumlah desa yang sedang getol melakukan PSN di antaranya adalah  Desa Tejo, Sarangan, Piyak, Kabalan, Prigi dan Pesen. Desa-desa itu memasang spanduk dan banner PSN dengan cara 3M Plus di lokasi strategis.



Camat Kanor Subiyono berharap, dengan gerakkan PSN melalui 3M Plus ini warga tidak tergantung lagi dengan fogging untuk memberantas DBD. Karena paling efektif adalah dengan menggiatkan kader jumantik agar jentik-jentik nyamuk DBD tidak berkembang menjadi nyamuk.



“Saya sudah menginstruksi kepada semua desa untuk menggerakkan kader-kader jumantik yang sudah ada di masing-masing desa. Dengan begitu serangan DBD dapat dicegah,” pungkas mantan Camat Temayang itu.(*)

    

      

0 comments:

Post a Comment

Google AO

E-mail : wartabojonegoro16@gmail.com

Popular Posts

Powered by Blogger.