Monday, February 22, 2016

Virus Zika yang mewabah di kawasan Amerika Latin turut menjadi perhatian negara lain. Dalam keterangannya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa virus itu akan menyebar ke semua negara di seluruh Amerika kecuali Kanada dan Chile.

Indonesia juga perlu waspada pada persebaran virus Zika. Seorang praktisi kesehatan, Dr Ari Fahrial Syam, mengatakan, antisipasi terhadap penyebaran virus Zika serupa dengan pencegahan demam berdarah. Virus Zika bisa ditekan kasusnya jika kita dapat melakukan pemberantasan sarang nyamuk.

"Pencegahan sama seperti pencegahan infeksi demam berdarah yaitu pemberantasan sarang nyamuk," kata Syam yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Jakarta Raya (PAPDI Jaya) di Jakarta, Kamis (28/1/2016).

Langkah pemberantasan sarang nyamuk yaitu dengan cara yang sudah akrab dengan masyarakat Indonesia. Langkah 3 M (Mengubur, Menguras dan Menutup) sangat dianjurkan agar tidak ada lagi tempat nyamuk untuk bersarang.

Selain pencegahannya yang sama dengan pencegahan demam berdarah, proses penularannya pun juga sama. Penularan virus Zika juga melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi pembawa virus Dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah Dengue. 

 "Infeksi demam berdarah Dengue sendiri saat ini jumlah kasusnya meningkat di Indonesia yang memang sering terjadi pada musim hujan. Seperti kita ketahui bahwa selain menjadi vektor atau pembawa virus Dengue dan virus Zika, nyamuk ini juga membawa virus Chikungunya," jelasnya.

 
Baik virus Zika maupun virus dengue sama-sama ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Gejala infeksi kedua virus ini pun hampir mirip, yaitu demam. Namun, ada beberapa gejala yang membedakan ketika seseorang terinfeksi virus Zika atau dengue yang menyebabkan demam berdarah dengue (DBD).

"Gejala yang menonjol jika terinfeksi virus Zika adalah mata merah," ujar Ari Fahrial Syam.

Selain demam mendadak tinggi dan mata merah, virus Zika juga bisa menimbulkan gejala nyeri otot dan sendi, sakit kepala, lemas, serta kemerahan di kulit badan, punggung, hingga kaki. "Kalau demam berdarah, timbul bintik merah. Pada kasus berat, sampai pendarahan. Bedanya, pada DBD, trombosit turun, pada Zika, trombositnya normal," kata Wakil Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) itu.

Terkadang, baik infeksi Zika maupun DBD hanya memunculkan gejala ringan sehingga sering kali tidak terdeteksi. Menurut Ari, jika ada pasien yang demam kemudian matanya merah karena mengalami radang konjungtiva, sebaiknya segera periksa ke dokter.

Ari mengungkapkan, virus Zika sebenarnya sudah lama ada, termasuk di Indonesia. Infeksi itu pun selama ini tidak lebih berbahaya dibanding terkena DBD. Namun, saat ini, infeksi virus Zika pada ibu hamil dicurigai menyebabkan bayi lahir dengan mikrosefali atau kepala kecil karena gangguan perkembangan otak.

Peningkatan infeksi virus Zika terjadi di wilayah Amerika Latin yang diikuti peningkatan kasus mikrosefali. WHO pun telah mengeluarkan status darurat kesehatan global terhadap kasus infeksi virus Zika.(*)

0 comments:

Post a Comment

Google AO

E-mail : wartabojonegoro16@gmail.com

Popular Posts

Powered by Blogger.