Monday, February 22, 2016

Serangan DBD di Bojonegoro selama dua bulan ini cukup banyak. Namun demikian, Bojonegoro masih masuk katagori aman sehingga belum ditetapkan KLB.

Dinas Kesehatan Bojonegoro mencatat, jumlah kasus demam berdarah dengue  (DBD) sepanjang Januari – Pebruari sebanyak 153 orang, dan 5 orang dinyatakan meninggal dunia. Rinciannya, pada Januari jumlah kasus sebanyak 125, dan 3 orang meninggal dunia. Kemudian hingga pertengah Februari sebanyak 28 kasus, dan 2 orang meninggal dunia.

Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2015 lalu di bulan yang sama. Untuk bulan Januari sebanyak 99 kasus dan satu orang meninggal dunia, sedangkan pada Februari 2015 sebanyak 92 kasus dan  dua orang meninggal dunia.

Meski jumlah kasus DBD di bulan yang sama pada tahun ini meningkat, namun Pemerintah Kabupaten Bojonegoro belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) DBD. Alasannya, penetapan status KLB ini bukan berdasarkan jumlah korban meninggal dunia. Tapi berdasarkan jumlah kasus DBD yang meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu di bulan yang sama.

“Belum KLB. Karena jumlah kasusnya tidak sampai meningkat dua kali lipat di bulan yang sama,” tegas Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Bidang Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Bojonegoro, dr. Whenny Dyah Prajanti.

Dari jumlah penderita DBD tahun ini, lima korban meninggal dunia di antaranya berasal dari Desa Kolong, Kecamatan Ngasem, Desa Pandanwangi, Kecamatan Sumberrejo dan Desa Beton, Kecamatan Kedungadem.
     
"Penyebaran DBD di daerah kami tahun ini, terbanyak di sejumlah desa di Kecamatan Sumberrejo, Kedungadem dan Sugihwaras," jelasnya.
     
Data di Dinkes, tahun 2015 lalu tercatat sebanyak 565 kasus DBD, di antaranya tujuh penderita meninggal dunia. Untuk mencegah penyebaran penyakit  DBD di daerahnya ada beberapa cara yang dilakukan Dinkes Bojonegoro. Yakni dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Cara ini tepat guna karena memberantas jentik di tempat berkembang biaknya nyamuk dengan cara 3M plus yaitu tindakan yang dilakukan secara teratur untuk memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk.

3M plus itu dilakukan dengan cara menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi/WC, drum dan lain-lain seminggu sekali, menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti gentong air, tempayan, dan memanfaatkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Sedangkan plus adalah tindakan memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk dengan cara membunuh jentik nyamuk DBD di tempat yang sulit dikuras dengan menaburkan bubuk temephos larvasida, memelihara ikan pemakan jentik seperti cupang dan bethik, mengusir nyamuk dengan obat nyamuk, mencegah gigitan nyamuk dengan lotions, memasang selambu dan kawat kassa pada jendela dan ventilasi, serta tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar. 

“Nyamuk aedes aegypty ini adalah nyamuk bangsawan, sukanya di air bersih. Jadi mereka berkembang biak di tempat-tempat genangan air bersih,” kata Whenny.

“Cara ini lebih efektif daripada fogging. Karena yang diberantas adalah jentiknya. Sedangkan fogging hanya memberantas nyamuk dewasa,” tegas wanita asal Jember itu.

Menurut Whenny, pemberantasan nyamuk DBD dengan fooging ini tidak akan efektif jika tidak disertai dengan PSN. Karena itu, PSN harus dilakukan secara serentak dan terus menerus. Tujuannya, agar jentik-jentik nyamuk demam berdarah tidak berkembang biak.

“Idealnya PSN dilakukan seminggu sekali,” pungkas mantan Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander itu.

Pencegahan dengan cara PSN ini mulai dilakukan desa-desa di Bojonegoro. Mereka melakukan kerja bakti lingkungan dengan membersihkan tempat-tempat genangan air hujan baik di luar maupun di dalam rumah.

Seperti yang dilakukan Desa Semambung, Kecamatan Kanor. Untuk pembersihan tempat penampungan air di dalam rumah, pihak desa melibatkan kader jumantik yang dibentuk desa. Tugas kader jumantik ini adalah mendatani satu persatu rumah warga untuk mengingatkan warga agar membersihkan tempat penampungan air.

“Sedangkan untuk kerja bakti lingkungan kita lakukan setiap satu bulan sekali,” sambung Enny Rahmawati, Kepala Desa Semambung dikonfirmasi terpisah.

Hal yang sama juga dilakukan Pemerintah Desa Bulu, Kecamatan Balen. Pemdes setempat mengajak seluruh warganya melakukan kerja bakti membersihkan lingkungannya. Kegiatan tersebut dilakukan setiap seminggu sekali untuk menghentikan penyebaran DB yang sempet meresahkan warga Bulu.

Kegiatan tersebut didukung Puskesmas Balen yang langsung terjun ke lapangan untuk menginstruksikan warga tentang beberapa hal yang harus di lakukan untuk mencegah penularan virus DB. Di antaranya membersihkan got, membakar ban-ban bekas, rutin menguras kamar mandi dan kesadaran diri untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan.

“Setelah dilakukan fogging ternyata tidak terjadi perubahan, akhirnya dilakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk,” timpal Kepala Desa Bulu, Anto.

Kegiatan ini diawali dari penerapan 3M yaitu menguras kamar mandi dan gentong, mengubur barang-barang bekas dan menutup genangan air yang tidak langsung menyentuh tanah. "Langkah ini akan terus kita lakukan demi menghentikan penyebaran DB," tegasnya.

Dia menambahkan, dari data yang ada, sejak bulan Januari lalu terdapat 5 orang di rawat di Rumah Sakit karena terserang penyakit DB. "Hal ini sangat meresahkan warga karena penularan itu dimungkinkan masih akan tetap terjadi apabila tidak adanya kesadaran semua warga untuk melakukan pencegahan," ungkap Anto.(*)

0 comments:

Post a Comment

Google AO

E-mail : wartabojonegoro16@gmail.com

Popular Posts

Powered by Blogger.