Tuesday, February 16, 2016

SETELAH diguncang gempabumi signifikan sekitar 7 bulan lalu, kini wilayah Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, kembali mengalami aktivitas seismik yang tidak lazim. Dalam waktu 3 hari, sejak tanggal 14 - 16 Februari 2016, BMKG mencatat adanya aktivitas gempabumi tektonik sebanyak 35 kali dengan kekuatan M < 3,1.

Jika kita mengamati persebaran episenter aktivitas gempabumi yang terjadi, tampak bahwa aktivitas seismik yang terjadi membentuk sebuah klaster episenter gempabumi di zona Gunung Pandan bagian utara dan timurlaut.

Ada yang menarik untuk diperhatikan terkait lokasi episenter gempabumi yang terjadi. Jika kita bandingkan dengan episenter gempabumi 25 Juni 2015 lalu, tampak ada pergeseran lokasi sumber gempabumi. Saat itu episenter terkonsentrasi di Dusun Pohulung yang terletak di kaki barat daya Gunung Pandan bagian selatan. Dalam sebulan setidaknya terjadi 8 kali gempabumi dengan magnitudo M<4,5, yang menyebabkan beberapa bangunan rumah mengalami kerusakan ringan. Namun demikian, aktivitas gempabumi yang berlangsung saat ini episenternya tampak bergeser,  tersebar di sebelah utara dan timurlaut zona Gunung Pandan.

Berdasarkan data dasar gunungapi PVMBG, zona Gunung Pandan dikategorikan sebagai gunungapi tidak aktif. Dalam peta geologi, zona Gunung Pandan tampak sebagai sebuah formasi batuan terobosan (intrusive rock) berumur awal kwarter yang dikenal sebagai breksi Pandan. Di sebelah timur laut zona Gunung Pandan tampak terdapat sesar aktif dengan orientasi barat daya ? timur laut dengan mekanisme sesar mengiri (sinistral).

Analisis mekanisme sumber terhadap beberapa kejadian gempabumi menujukkan pola yang bervariasi. Namun demikian, secara umum menunjukkan bahwa sebagian besar mekanisme penyesaran yang terjadi merupakan sesar turun (normal fault).  Proses penyesaran turun terjadi akibat bekerjanya gaya ekstensional di zona gempabumi. Sehingga dalam hal ini dapat diinterpretasikan bahwa ada sebuah mekanisme depresi batuan bawah permukaan di zona Gunung Pandan.

Terkait tingginya aktivitas seismik di zona Gunung Pandan saat ini, kita menduga kuat bahwa aktivitas yang terjadi merupakan fenomena swarm. Jika mengacu kepada USGS (2008), untuk menyatakan sebuah fenomena gempabumi disebut sebagai aktivitas swarm didasarkan pada pola aktivitas gempabumi yang terjadi, bukan dari lamanya periode aktivitas gempabumi. Swarm dapat terjadi beberapa hari, beberpa mingu, hingga beberapa bulan.

Swarm merupakan aktivitas seismik yang tidak lazim, terkait frekuensi kejadiannya yang tinggi dalam periode "pendek?. Gempabumi swarm sebenarnya merupakan fenomena alam biasa, sehingga swarm bukan merupakan sebuah pertanda akan terjadinya gempabumi besar di suatu wilayah. Swarm terjadi akibat karakteristik geologi tertentu di suatu tempat dan aktivitasnya akan berakhir dengan sendirinya begitu energi yang menjadi pembangkitnya habis.***

Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG

0 comments:

Post a Comment

Google AO

E-mail : wartabojonegoro16@gmail.com

Popular Posts

Powered by Blogger.