Sunday, February 21, 2016

Waspadai Serangan Nyamuk Bangsawan

Semua desa di Bojonegoro pernah menjadi desa endemik DBD.  Masyarakat diminta waspada terhadap serangan nyamuk bangsawan yang bisa mengakibatkan kematian.

Masyarakat harus waspada terhadap serangan penyakit saat memasuki musim penghujan seperti ini. Salah satunya demam berdarah dengue (DBD). Sebab Jika terlambat ditangani, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.

Dinas Kesehatan Bojonegoro mencatat, sepanjang Januari hingga Februari 2016 ini, jumlah kasus DBD sebanyak 153 orang, dan 5 orang dinyatakan meninggal dunia. Rinciannya, pada Januari jumlah kasus sebanyak 125, dan 3 orang meninggal dunia. Kemudian hingga pertengah Februari sebanyak 28 kasus, dan 2 orang meninggal dunia. 

Menurut Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Bidang Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Bojonegoro, Dr. Whenny Dyah Prajanti, ada beberapa faktor yang menyebabkan masih tingginya serangan DBD di wilayah Bojonegoro. Yakni aedes aegypty pada siklus hidup nyamuk yang dipengarhui oleh iklim atau cuaca atau curah hujan. Selain itu, lanjut dia, lingkungan yang menjadi kateristik tempat berkembangbiaknya nyamuk di air bersih yang tergenang lebih dari tujuh hari.

“Dua hal itu yang sangat mempengaruhi perkembangan nyamuk bangswawan ini,” kata Whenny kepada Warta Bojonegoro di ruang kerjanya pekan ketiga Februari lalu.

Serangan DB merupakan salah satu penyakit berbahaya karena bisa mematikan jika tidak segara mendapat penanganan. Untuk menangani penyakit ini, tindakan pertama yang dilakukan adalah dengan memberikan minum air putih yang banyak kepada penderita, obat turun panas, dan apa bila dalam dua hari tidak ada perubahan harus dibawa ke petugas medis terdekat.

“Ini agar pasien segara mendapat perawatan yang lebih intensif agar tidak terlambat dan terjadi kejadian fatal,” ujar mantan Kepala Puskesmas Ngumpakdalem, Kecamatan Dander itu.

Penanganan terlambat terhadap penderita DBD itu terkadang disebabkan karena pasien terkecoh dengan siklus DBD yang dikenal dengan siklus pelana kuda. Dimana siklus demam berdarah itu dikenal dengan pelana kuda. Artinya, ada fase (demam) turun sebentar, lalu bisa panas lagi.

“Itu justru fase yang harus diwaspadai," tegas dia.

Biasanya, pada hari kedua hingga ketiga demam sangat tinggi. Kemudian, pada hari keempat demam turun dan biasanya pasien akan terlihat sehat kembali. Orangtua pun mulai mengizinkan anak mereka kembali sekolah. Padahal, pada fase demam turun itulah bagian kritis dari penyakit DBD. Setelah itu, pada hari kelima atau keenam, demam akan kembali tinggi.

Gejala awal DBD memang kerap tak disadari karena mirip dengan demam biasa. Namun, pada musim hujan seperti ini sebaiknya waspadai DBD ketika demam dan langsung periksa ke dokter. "DBD harus pemeriksaan fisik untuk cek trombosit. Jangan ditunda-tunda," saran Whenny.

Whenny mengungkapkan, semua desa di Bojonegoro merupakan daerah endemic DB, kecuali Desa di wilayah Kecamatan Sekar. Karena di desa merupakan daerah dataran tinggi yang tak disukai oleh nyamuk aedes aegypty.

“Semua desa pernah mengalami endemic. Namun kondisi ini berubah-ubah. Artinya, tahun kemarin endemic, bisa jadi tahun ini tidak,” pungkas wanita asal Jember itu.

Yati, salah satu ibu yang anaknya menderita DBD, mengatakan, sebelum dibawa ke rumah sakit, anaknya menderita demam tinggi. Setelah sampel darahnya diambil dan diuji di laboratorium, diketahui bahwa anaknya terjangkit wabah demam berdarah. Saat ini, sejumlah rumah sakit di Bojonegoro dipenuhi pasien DBD, seperti di RSUD Sosodoro Jatikusumo Bojonegoro. Selain RSUD tersebut, RSUD Padangan juga menampung 14 pasien DBD dan RSUD Sumberejo merawat 25 pasien.

Senada juga disampaikan, Endang, warga Ngumpakdalem, Kecamatan Dander. Diar, putranya, juga terserang DBD dan dirawat di Rumah Sakit Aisiyah. Endang mengungkapkan, putranya awalnya mengeluhkan sakit panas dan pusing. Namun panas yang diderita anaknya tak menentu, kadang panas, kadang dingin.

“Karena saya curiga panasnya aneh, langsung saya bawa kesini. Sesuai hasil tes darah ternyata trombositnya turun, dan dinyatakan postif DBD,” sambung Endang.

Dari jumlah tersebut di antara kelima korban yang meninggal dunia itu semuanya merupakan anak-anak yang berusia antara 3-12 tahun. Usia tersebut memang rentan terserang virus yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypty.  Meskipun tahun ini ini penderita orangtua juga banyak tapi tidak ada yang meninggal.

Sementara, ratusan pasien DB itu dirawat di 28 Puskesmas yang ada di Bojonegoro. Puskesmas Kecamatan Kanor misalnya, saat ini merawat sebanyak 20 pasien DB. Itu tercatat tinggi dibanding kecamatan lain, sebab Kanor merupakan wilayah endemis DB.

"20 pasien itu anak-anak 14, sedangkan orang tua 6 pasien," ujar Uliyah Astutik, penanggungjawab rawat inap Puskesmas Kanor ditemui terpisah.

Selain di Kecamatan Kanor, beberapa Puskesmas di wilayah endemis di Kota Ledre juga merawat banyak pasien DB. Diantaranya, Gayam, Purwosari, Temayang, Balen dan Kapas. 
Selain daerah endemis, pasien DBD sudah tersebar di 20 titik di Kabupaten Bojonegoro, seperti Kecamatan Balen, Baureno, Bubulan, Bojonegoro, Sumberejo, Sukosewu, Kedungadem, Dander, Kepohbaru, dan Sugihwaras.(*)

Laporan Kasus dan Penanggulangan Penyakit DBD Bojonegoro Tahun 2015
Kondisi sampai dengan tanggal 28-12-2015

(kolom belum diketik)

           


0 comments:

Post a Comment

Google AO

E-mail : wartabojonegoro16@gmail.com

Popular Posts

Powered by Blogger.